Sunday, December 22, 2013

Halo-halo Soekarno

Konon, di banyak tempat, para penonton menurut pada anjuran awal film yang mempersilakan para hadirin menyanyi Indonesia Raya sambil berdiri. Tapi saya tidak mengalaminya. Ingin sebenarnya berdiri dan menyanyi, bukan karena kualitas vokal saya baik dan saya ingin pamer, tapi saya menyukai lagu itu. Saya menghapalnya, sebagaimana saya hapal Pancasila dan Pembukaan UUD 1945, meskipun saya samasekali tidak menyukai upacara bendera.

Film ini mengisahkan Soekarno dari lahir hingga proklamasi. Gampangnya sih begitu. Film bergenre biografi (yang bagus) yang saya tonton terakhir adalah Lincoln (Daniel Day Lewis pantas disembah untuk aktingnya yang sempurna), dan sempat berharap akan sebagus itu, tapi, ya, sudahlah. Sebelum menonton Lincoln yang serius, saya menonton Lincoln versi ngehe, di mana dia digambarkan sebagai pemburu vampir. Saya sempat berpikir, lucu juga, nih, kalau Indonesia bikin film tokoh dengan versi seperti ini, kebetulan genre biografi sedang banyak dibikin dan genre horor, well, jaman kapan sebenarnya genre ini tidak dibuat? Tapi setelah drama Rachma dan membaca beberapa review yang menyerang film ini, saya tahu, bahwa Soekarno versi pemburu hantu adalah sesuatu yang agak mustahil naik layar di Indonesia.

Secara keseluruhan, film ini cukup mengesankan bagi saya. Ia memberi konteks yang manusiawi. Rangkaian peristiwa dan tokoh-tokoh di dalamnya dapat saya kagumi tapi juga saya kenali karena memiliki keraguan, kebimbangan, dan keputusan-keputusan yang tidak selamanya baik dan benar. Saya menyukai akting Maudy, dialah yang menurut saya memberi daging dan darah pada film ini. Ario Bayu sebagai Soekarno juga lumayan, lah, saya merasakan kesedihannya saat ditinggal Inggit, meskipun wajahnya saat adegan Romusha kurang depresif (keseluruhan adegan itu kurang emosional buat saya). Adegan Soekarno dan Hatta dalam mobil barangkali fiktif, tapi saya yakin seratus persen, bahwa mereka memang pernah membayangkan dengan keraguan bagaimana mereka akan memimpin negara ini. Justru karena pernah ragu, mereka kemudian berusaha sebaik-baiknya.

Soekarno adalah womanizer. Ada banyak bukti tentang itu. Dia juga memilih berkolaborasi dengan Jepang. Jika boleh memilih, tentu saya akan memilih Hatta dalam urusan perempuan dan Sjahrir dalam perkara menghadapi Jepang. Tapi Soekarno adalah Soekarno: yang pertimbangan kolaborasi dengan Jepangnya didukung Inggit, yang kemudian meninggalkan Inggit karena ingin punya keturunan, yang saat sudah tua masih saja memacari remaja. Saya agak geli ketika membaca beberapa review film ini dan memprotes penggambaran Soekarno sebagai womanizer. Apalagi yang menulis rata-rata laki-laki. 

Memangnya kenapa kalau Soekarno mata keranjang? Hanung dan timnya sudah bermurah hati hanya mengangkat kisah Soekarno dengan tiga perempuan dan semua dengan konteks yang jelas dalam cerita. Mien dipilih untuk menjadi salahsatu latar Soekarno merasakan langsung pedihnya kolonialisasi. Tapi apakah Soekarno melawan Belanda hanya karena ditolak oleh ayah pujaan hatinya? Saya tidak akan gegabah menyimpulkan itu, karena beririsan dengan adegan-adegan cinta monyet itu adalah cerita ia dengan HOS Tjokroaminoto dan tokoh-tokoh lain yang pada saat itu melawan Belanda. Buat saya, nampak sekali ia kagum pada Tjokro, dan latihan pidato di kamarnya pun agaknya meniru Tjokro. Dan bukankah ia juga mengamini Tjokro yang mengatakan padanya bahwa seorang pemimpin harus bisa menggenggam hati rakyatnya?

Untuk Inggit, Hanung dan timnya bahkan tidak membahas masa Soekarno sebelum menikah dengan Inggit. Bisa dibayangkan sengitnya orang-orang, adegan Soekarno mendekati Fatmawati saja sudah dihebohkan, apalagi kalau ditunjukkan Soekarno mencumbu Inggit, dia masih muda, Inggit adalah ibu kosnya, dan juga istri orang. Saya justru menyukai gambaran Soekarno-Inggit dalam film ini: Soekarno yang berjuang dan dicintai rakyat, Inggit yang cari uang dan membiayai perjuangan: menyuap sipir untuk ketemu di penjara (sayang, tidak ada adegan penyelundupan buku), juga memberi uang untuk orang-orang memperjuangkan Soekarno dibebaskan. Saya sempat menebak-nebak, karena ada adegan sebar pamflet, uang itu untuk bikin pamflet. Cinta rakyat pada pahlawan memang gratis, tapi kertas, tinta, dan lem tetap harus dibeli. Pada pembuangannya di Bengkulu, Soekarno bahkan menyiratkan bahwa dia adalah suami takut istri. Setidaknya, dia tidak menyangkal tudingan Hatta dan Sjahrir, malah nyepik: dalam beberapa hal dia memang suka dikuasai. 

Pada Fatmawati, Soekarno nampak tertarik padanya karena di kelas, Fatmawati menunjukkan kecerdasannya, bukan karena Fatmawati semata-mata muda, cantik, dan semok. Saat Soekarno genit di pantai pun mereka sedang membicarakan buku. Memang disayangkan, setelah mereka saling cinta, Fatmawati nampak tidak punya peran apa-apa selain memberi Soekarno anak dan menjahit bendera. Tapi memang selain itu, apa lagi jasanya. Fatma masuk ke dalam rumah tangga Soekarno saat Soekarno boleh dibilang mapan: punya rumah yang enak, tidak dipenjara apalagi dibuang, pergi kemana-mana pakai mobil. Mungkin karena inilah Fatma menjadi istri Soekarno yang paling sering "dimunculkan" pada jaman Orde Baru: cocok dengan harapan Tien bahwa ibu negara adalah "ibu-ibu": punya anak dan menjahit bendera, bukan perempuan yang mengorganisasi gerakan, intel Jepang, remaja bau kencur, atau pencari nafkah. Makanya saya agak menyesalkan kenapa yang disorot adalah ketika Fatma menjahit bendera, menggelar bendera itu di meja, bukannya apa arti bendera itu buat Fatma, dan kenapa ia ingin menjahit bendera.

Selain dengan Inggit, saya paling suka adegan Soekarno dengan perempuan adalah penggambaran hubungan dia dengan para pelacur. Di film ini, para pelacur adalah pahlawan juga: pada satu titik mereka punya nasionalisme karena mengagumi Soekarno dan mau berkorban melayani tentara Jepang agar gadis-gadis bisa berhenti diculik untuk dipakai sebagai pemuas nafsu. Tentu, kita semua tahu bahwa usaha ini tidak seluruhnya berhasil, Jepang tetap saja menculiki gadis-gadis dan merusak hidup mereka, tapi para pelacur ini layak diberi penghormatan. Dari beberapa review yang menyatakan Soekarno maniak seks, saya heran tidak ada yang membahas adegan dia menolak seorang pelacur yang bersedia melakukan apa saja untuk Soekarno. Jika dia memang demikian maniak seks, harusnya ada adegan dia dihibur oleh banyak pelacur. Makanya saya bilang, beberapa review yang bilang Soekarno maniak seks itu menggelikan.

Mengapa banyak sekali lelaki yang rewel soal kegenitan Soekarno? Saya melihat orang-orang ingin sekali menyamakan Soekarno dengan Nabi Muhammad: yang punya banyak istri namun melampaui urusan seksualitas. Tapi tentu saja Soekarno bukan nabi, yang mengawini janda karena alasan kemanusiaan dan mengawini anak gadis sahabat dekatnya untuk memperkokoh kedudukan politik. Soekarno sering kawin karena memang dia memenuhi berahinya. Apakah itu perbuatan yang salah? Mungkin ya. Saya tidak menganjurkan kawin terus dan mengejar-ngejar berahi. Tapi apakah menampilkan sisi itu sebuah kesalahan? Kecuali jika mengada-ada, bahwa sebenarnya Soekarno adalah lelaki yang alim dan menjauhi keduniawian tapi digambarkan genit, tentu tidak ada salahnya. Saya tetap salut pada kecerdasan dan perjuangannya meskipun sebal pada sikap genitnya. Ataukah tidak boleh seorang tokoh besar ditampilkan kekerdilannya? Atau, para laki-laki yang bawel ini sebenarnya sedang sibuk dengan asumsinya sendiri tentang kegenitan? Saya tidak tahu. 

Di luar ribetnya urusan penggambaran perempuan, saya malah tidak sreg dengan tidak adanya keterangan bagaimana dia membangun partai: bagaimana dia bergerak dan membangun konsolidasi, bagaimana dia bisa akrab dengan Hatta, seolah-olah seluruh dunia sudah tahu mereka bersahabat dan tidak lagi diperlukan latar untuk itu. Ya, ya,, durasi. Tapi setidaknya boleh, lah, diberi keterangan tertulis, seperti penggalan-penggalan lain yang tidak ada adegannya. Adegan paling menyebalkan buat saya malah adegan sidang perumusan Pancasila. Di sana cuma ada heboh-heboh tidak jelas dari golongan Islam tentang syariat Islam, seolah-olah orang-orang dari pergerakan Islam bukan intelektual yang punya argumen jelas atas kemauannya. Takutnya, adegan ini dipakai sama PKS dan FPI untuk melegitimasi kelakuan mereka yang suka heboh gak jelas dalam ngotot-ngototan membela aturan berbasis Syariah. 

Ngomong-ngomong, sebagai sesama pemuja Gajah Mada, kenapa Yamin gak nongol di film ini, yah? Durasi? Tan Malaka juga tidak ada. Mungkin harus dibikin film tersendiri. Maksud saya Tan Malaka, yah, buka Yamin :P

Tuesday, November 19, 2013

Mengenai Jilbab HItam

Ketika ada ramai-ramai soal Jilbab Hitam, saya sebenarnya tidak begitu kaget. Rasanya sudah tidak asing ada satu akun menulis sesuatu yang dianggap rahasia lalu semua orang heboh karenanya. Sempat kaget karena sekarang yang dibidiknya adalah media massa besar. Beberapa orang mulai bergunjing tentang siapa sebenarnya Jilbab Hitam, maunya apa, dan segera terjadi perdebatan panjang, bertele-tele, dan membosankan tentang anonimitas.

"Kalau berani, jangan bersembunyi di balik akun palsu." "Menyamar itu pengecut." Lalu, di seberangnya, ada juga yang bersorak sorai bergembira dan sibuk meledek, "Media juga kan suka pakai sumber anonim. Ini mah karma." Entah kenapa, orang-orang sepertinya begitu terobsesi kepada moral dan klenik, sehingga yang keluar adalah tuduhan semacam pengecut dan karma. Saya juga memikirkan tentang moral, tentu, dalam persoalan ini, tapi tidak seperti yang dipikirkan orang lain. 

Persoalan moral mengenai akun-akun anonim ini buat saya adalah betapa sering akun-akun semacam ini menggunakan nama samaran yang feminin, atau memakai foto-foto perempuan. Saya menganggap praktek ini seksis bukan kepalang, apalagi bagi akun-akun yang menggunakan foto perempuan seksi. Mengapa harus menggunakan nama yang terdengar perempuan dan atau foto perempuan dalam menyebarkan hal-hal semacam ini? Saya perhatikan sekarang (setelah adminnya ketahuan) Triomacan menggunakan foto Soekarno. Dulu kenapa dia harus memasang foto perempuan, dan bersikap seolah-olah dia perempuan? Cari perhatian? Jadi kalian pikir kalau kalian memajang diri sebagai perempuan, kalian akan lebih cepat populer? Jadi kalian pikir perempuan akan mendapat perhatian lebih semata karena pertama dan terutama dia seorang perempuan? Dan jika memang yang kalian bicarakan itu penting, maka kalian pikir akan terasa lebih istimewa jika kalian dianggap sebagai perempuan? Jika yang kalian sebarkan adalah fitnah, apakah kalian melakukannya dengan pikiran (sadar atau tidak) bahwa fitnah identik dengan perempuan? Kurang ajar sekali. Iya, saya tahu itu strategi penjualan. Dan sepertinya berhasil. Tetap saja, kalian menyebalkan. Oh, dan yang mengolok-olok mereka dengan membikin lelucon tentang hal-hal feminin yang melekat pada identitas palsu itu juga sama saja seksisnya. Sama saja menyebalkannya.

Hal yang lebih mengkhawatirkan buat saya adalah bagaimana kita menyikapi anonimitas. Dalam pemberitaan, setahu saya, tentu boleh menggunakan sumber anonim, tapi kan ada metodologi tertentu. Sama dengan penelitian ilmu sosial, saya kira. Ketika jurnalis atau peneliti berada di lapangan dan meneliti masalah yang sensitif, ada semacam kewajiban untuk memberitahu informan resiko informasi itu untuknya, jika dia sendiri belum mengetahui. Dan kita harus bisa menjamin kerahasiaannya apabila informasi yang dia berikan memiliki resiko besar dan mengancam keselamatan informan tersebut. Bagaimana menguji validitas data yang kita dapatkan? Tentu saja kita harus cross-check data tersebut. Bisa dengan triangulasi, bisa dengan sumber tertulis, bisa dengan hasil observasi kita sendiri. Urusannya metodologis, lah. Saya pikir media massa besar sudah paham betul perkara ini. Jadi saya ketawa saja, pas orang-orang menganggap masalah anonimitas Jilbab Hitam ini sebagai karma. Tapi saya juga menyayangkan orang-orang media yang mengata-ngatai "penyamaran" sebagai sesuatu yang kecut dan penuh takut. Dalam Twitter yang cuma terbatas 140 karakter, mudah sekali memang terperosok untuk mengata-ngatai orang, terlambat menjelaskan dan berujung pada penalaran aneh seperti "karma" di kalangan luas. 

Saya sempat menunggu pembicaraan mengenai anonimitas ini berlanjut ke topik yang lebih serius, dan konon telah diadakan diskusi yang menarik mengenai ini, ya. Syukurlah. Bagaimanapun terasa bebasnya kita berpendapat dibanding jaman Soeharto, kita tidak bisa lupa bahwa ada orang yang masuk bui gara-gara status facebook, BBM, twitter, email, dan lain sebagainya. Dan hukumannya cukup berat. Agak geli-geli ngeri saya membayangkan seseorang harus dibui karena membuat status facebook yang mneyatakan tentang keyakinannya pada atheisme, misalnya. Saya takut kita mengikuti jejak Amerika, yang kini sedang parah-parahnya memenjarakan non-violent offenders. Dalam situasi tidak menguntungkan seperti ini, di mana masih bertebaran pasal-pasal karet, saya pikir adalah wajar menggunakan anonimitas untuk melindungi kebebasan berpendapat kita. Ini bukan soal pengecut atau tidak, tapi ternyata, suka atau tidak, masih ada resiko tertentu dalam mengemukakan pendapat. Jika ada dari kita yang merasa perlu mengemukakan pendapat dengan menggunakan akun anonim, maka kita belum sepenuhnya merdeka. Negara mestinya memberikan jaminan hukum seluas-luasnya dalam kebebasan berpendapat (termasuk bebas dari ancaman kelompok lain ketika mengemukakan pendapat), tapi dalam proses menuju ke sana, saya pikir kebebasan untuk menggunakan akun anonim mesti dipertimbangkan dengan lebih bijak. 

Tentu saja, masalahnya lain lagi apabila yang kita bunyikan adalah fitnah. Kalau kita memiliki data-data yang berpihak pada kebenaran versi kita, pengadilan mungkin bisa menjadi gelanggang yang cocok untuk meneruskan sengketa ini. Yah, mau diselesaikan secara kekeluargaan juga tidak apa-apa. Wajar. Kita kan menganut extended-family.



Udah, ah. Keburu ngantuk. Besok sekolah. Oiya, konon Jilbab Hitam skripsinya tentang Tan Malaka, yah? boleh, kali, lempar file-nya ke email. Lumayan kalo tulisannya bagus. :P

Wednesday, January 16, 2013

Surat untuk Tuan Penyair

Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya.

Saya sedang malas menjadi penyair. Dulu, saya begitu bersemangat menjadi penyair, dan tidak bisa talak dengan puisi. Sekarang pun masih mencintai puisi, masih berusaha (dan tidak juga berhasil) menulis puisi, tapi, saya malas menghadiri pertemuan penyair. Bukan tidak mau bersilaturahmi, senang sekali rasanya bertemu penyair yang tadinya hanya bisa dikenal lewat karyanya, berdiskusi, membicarakan masa depan puisi. Hanya saja, pada pertemuan-pertemuan seperti itu, kerapkali ada semacam unwanted attention.

Unwanted attention macam apa? Kalau hanya kata-kata, tentu gampang, tinggal dibalas dengan kata-kata lagi. Syukur-syukur bisa bikin puisi. Tapi lebih dari itu saya merasa risih. Saya teringat dulu seorang penyair (no, bukan penyair ini yang memberi saya unwanted attention) pernah berpesan, “Nanti kalau sudah menikah, jangan sampai berhenti menulis puisi.” Saya menyanggupinya. Memangnya seburuk apa pernikahan, sampai-sampai menceraikan seorang penyair dari puisi. (yang mau curhat, silakan hubungi inbox) it’s the unwanted attention that makes me sick. Lebih terganggu lagi ketika mengetahui ada banyak penyair perempuan yang mendapat unwanted attention.

Come on, men. Dunia kepenyairan barangkali memang penuh dengan laki-laki. Dan selalu saja terdengar keluhan kurangnya penyair perempuan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tapi ketika (calon) penyair perempuan datang, kenapa kami disambut dengan banyak unwanted attention? Oke, akan ada suara yang bilang bahwa “Apaan, sih, perempuannya juga mau, kok.” Are you sure? Reaaally sure? Bukan cuma kalian aja yang ke-GR-an gitu? Oh, well, kalau memang benar, selamat. Tapi kalau salah, shit, men, kalian berpotensi kehilangan penyair perempuan, atau jikapun tidak kehilangan, kalian memperkokoh patriarki. Oh, yeah, you’re becomming part of the tyranny. Take that spotlight and goodbye.

And I’m not writing this based on some hearsays. Nope. Saya lelah dan merasa di-bully dengan perhatian-perhatian yang tidak tertuju pada tulisan saya. Dan saya lelah mendengar hal-hal ini terjadi pada penyair perempuan lain. Kalaupun memang puisi saya demikian jelek, kan tinggal bilang, “Males, ah, ngomongin puisi kamu, abis puisi kamu jelek. Yuk, kita ngomongin kamu aja.” There, gitu aja kok repot? Kalo dibilang begitu, saya kan tinggal pergi dan nulis sendiri, edit tulisan sendiri.

Saya juga cape mendengar nasihat dari beberapa kawan penyair laki-laki dan perempuan: “Ya gitu, che, memang banyak penyair yang genit, kamu hati-hati aja.” Uwooow, kenapa saya (dan penyair perempuan muda lain) yang harus berhati-hati? Mengapa tidak mereka saja yang menjaga sikap mereka? Atau lebih jauh: mengapa tidak ada nasihat pada penyair muda laki-laki untuk kelak tidak bersikap seperti senior mereka yang tidak patut dicontoh itu? Ada apa dengan dunia sastra ini hingga perlakuan-perlakuan menyebalkan seperti ini berlangsung berabad-abad?

Let me tell you this, peeps. Satu: tidak adalah tidak, berhenti adalah berhenti. Sebagai penyair, kalian tentu lebih tahu, lebih dapat peka, lebih sensitif merasa penolakan paling tidak kentara sekalipun. Kalau kalian tidak tahu, wah, kasihan sekali. Bagaimana bisa merasakan penderitaan orang antah berantah dan menulis puisi yang baik jika ditolak perempuan di depan mata saja tidak merasa?

Dua. Jika perempuan itu sudah menolak, dan kalian sebenarnya tahu, tapi memilih pura-pura tidak mau tahu dan memanfaatkan kondisi kalian yang lebih superior (entah itu fisik, mental, intelektual maupun status), you’re a fucking bully. Penyair memang istimewa, tapi dalam posisi seperti itu, tidak ada bedanya dengan preman, dengan diktator, dengan manusia menyebalkan dan mengerikan lainnya.

Tiga. Jika memang alasan kalian melakukan hal seperti ini untuk mendapat thrill agar bisa menulis lagi, for fuck’s sake, read a book. Get a life. Kalau hidup kalian membosankan dan enggan membaca, pergilah cari penghiburan yang tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak bisa, umm, gantung pena mungkin?
Empat. Jangan karena penyair perempuan tidak ada yang protes terbuka kalian merasa aman. Kalau ini berjalan terus, i’ll find a way to put you behind bars, if i have to. Or you want me to tell your wives?

Udah segitu aja. Terserah mau ditanggepin apa. Dan untuk orang-orang yang merasa tulisan ini untuk mereka, saya akan mengutip Ucok Homicide: “Lebok, tah, anjing.”

Selamat Tahun Baru, panjang umur Puisi.
Kecup jauh dan salam jari tengah,



Pradewi Tri Chatami, mantan calon penyair.

p. s. i mean it. i reaaally mean it.

Saturday, October 13, 2012

Si Pengungsi Mazen Maarouf


Namanya Mazen Maarouf. Dia adalah penyair keturunan Palestina, dari salahsatu keluarga pengungsi Palestina 1948 yang lahir dan tumbuh di Lebanon. Lahir pada tahun 1978 di kamp pengungsi, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada universitas Beirut dan menyandang sarjana Kimia. Empat tahun lalu, ia memulai karir di dunia jurnalistik dengan menjadi sebagai kritikus seni dan teater. Lebih lengkap mengenai biografinya, dapat ditengok disini:


Oke. Saya memang  agak malas menulis ulang biografinya. Mari kita bicarakan hal lain saja. Saya jatuh cinta pada Mazen pada tayangan Poets of Protest bagian ke-5, yang dapat disimak disini:


dan mulai iseng-iseng menerjemahkan apa yang dia sampaikan di film itu, plus beberapa puisinya yang saya tweetkan beberapa minggu lalu. Tak ada niat yang lebih serius, tapi, sejak saya berutang pada Dobby dan dia meminta saya posting di blog, saya akhirnya merasa perlu untuk menulis ulang tweet itu ke dalam satu catatan. Sudah dapat ditebak dari pembukanya yang bertele-tele bahwa saya kesulitan untuk mengawali tulisan ini dan bahwa tulisan ini akan panjang sekali. So here it is.

“It is the mission of how to reconstruct the dirt, this is poetry, maybe to make a rose out of dust.”
Begitulah Mazen berkata pada Roxana Vilk, pembuat film dokumenternya. Film dibuka dengan adegan ia berjalan pada suatu jalan di Reykjavik, Islandia, tempat yang, tak pernah ia bayangkan, tempat ia tinggal kini, dalam rangka writer residency. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang Palestin yang seumur hidup tinggal di Beirut dan sekarang, karena alasan (puitis dan) politis, tinggal di Islandia. Ia memasukkan tangannya ke dalam salju dan tersenyum, lalu berkata, “Sungguh ajaib jika kita membayangkan bahwa ini semua adalah bekuan air. Ini adalah sebuah danau, dan disini, kita semua dapat menjadi Kristus karena kita semua dapat berjalan di atas air... yang membeku.”

Sambil berjalan ia berkata, “Menulis puisi adalah perjalanan tanpa arah yang pasti. Yang kubutuhkan sebagai bekal adalah buku catatan. Buku catatan ini adalah tas yang kosong. Dan ketika aku berjalan, aku mengisinya. Terkadang aku tak menulis apa-apa. Sampai dua-tiga bulan, tak juga tulis apapun. Ini kerap membuatku gelisah."

Mengenai tempat tinggal barunya, Mazen bilang, “Datang ke negeri yang damai, tak ada tentara, tak ada senjata, adalah pengalaman yang membingungkan untuk orang yang tumbuh di Arab.” Sebagai keturunan pengungsi Palestin tahun 1948, ia tahu betul bahwa keluarganya mengungsi karena alasan politis. Kini, di Islandia, sebagian alasannya kemari juga karena alasan politis. “Beirut selalu mendatangkan perasaan aneh padaku. Ia adalah kotaku, tapi di sisi lain, ia juga selalu menentangku.”

Di tengah film, ia terbang ke Paris, untuk puisinya yang sedang diterjemahkan di sana. Pada tahun 2002, di Lebanon, dalam puisinya yang berjudul D. N. A, ia menulis tentang Paris, tanah yang belum pernah ia pijak kala itu, tempat yang ia impikan, sebagai tempat untuk berlari, tempat terakhir untuk mendapat hormat. Suatu tempat yang jauh, nun di garis batas cakrawala, dan kini, ia di sana, untuk menerbitkan bukunya.

Di Prancis, orang-orang yang lewat banyak yang mengira ia orang Prancis, dan ia berucap, jika saja orang tahu ia seorang Palestin, orang-orang akan berpikir, “Ah, ia seorang pengungsi,” dan orang-orang akan iba, akan ingin memeluknya dan berkata-kata manis penuh simpati, siap mencurahkan airmata. Pada orang-orang seperti itu ia akan berkata, “Berhentilah. Palestina tak butuh iba. Palestina butuh pikiran jernih. Kami perlu memikirkan masalah kami, kami tak butuh airmata. Tentu akan ada tangis untuk korban. Kamipun menangis untuk hal-hal buruk. Tapi kami tak perlu berselimut duka.”

Ada gembira dan gugup menghadapi puisi-puisinya yang akan diterjemahkan. Bagaimana si terjemahan kelak dapat memantulkan apa yang ia maksudkan, dan bagaimana orang akan berinteraksi dengan teksnya. Mazen, saya juga jadi gugup menerjemahkanmu. Buku puisinya yang ketiga ini: An Angel Suspended on a Clothesline telah terbit di Beirut. Buku itu terbit setelah ia di Islandia, dan ia cukup bahagia, bahwa suaranya tetap berada disana.

“Kondisi Palestina cukup buruk. Kami berucap tak akan kasar terhadap yang lain, tapi dalam hati, tak banyak yang berubah. Ada kebencian, ada semacam sektarianisme yang ekstrim. Sektarianisme politis, bukan agama. Ketika aku datang ke sana, seseorang mengikutiku, mengawasiku. Mereka tak percaya pada siapapun.”

Ketika Arab Spring dimulai, ia terlibat dalam gerakan, dan hasilnya, ia menerima banyak ancaman. “Revolusi pecah di Syria maret 2011. Aku mendukung gerakan itu dengan menulis artikel dan puisi: mendukung revolusi, sekaligus mengkritik rezim. Kau tak bisa mendukung rezim yang membunuhi rakyatnya dengan cara yang begini brutal. Tentu saja ada yang tak senang, dan kau pasti bisa menduga: aku berada di posisi rawan. Ada bedanya antara menjadi orang Lebanon dan Palestin. Kalau kau orang Lebanon, kau boleh mengkritisi rezim di Syria. Seorang Palestin sepertiku, menulis dan mengkritisi rezim, akan mengganggu banyak pihak, karena bagaimanapun, Syria menyeru ‘Bebaskan Palestin’. Rezim berlindung di balik slogan dan seruan itu. Situasinya menjadi amat rumit, hingga aku terpaksa meninggalkan Lebanon dan pergi ke Islandia. Di Lebanon, aku seorang pengungsi. Di Islandia, keungsiannya lebih tebal lagi. Bertumpuk, dan menambah kepekaan dan semangat untuk menulis puisi.”

“Ketika kutulis puisi, aku menyelami Mazen Maarouf lama, ke dalam ceruk-ceruk kenangannya. Dalam puisi-puisi baruku, aku ingin kembali pada diriku. Bukan pada kehidupanku sehari-hari. Tapi pada konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan sehari-hari. Aku menulis untuk mencari kepuasan, karena aku tak puas pada dunia. Kupikir puisi membuat ketidakpuasan kita berkurang. Arab tak banyak berubah sejak abad ke-18. Karena itu kamusnya sudah usang. Kita perlu segera merebutnya. Merombaknya. Memperluasnya.”

Di ujung film, ia berjalan-jalan di kota Paris, mengutarakan niatnya untuk menulis salahsatu puisinya di tembok dengan sebatang kapur. Ia mencari tembok yang cocok untuk dicoreti, dan dapat memuat tulisannya meski hanya sehari saja, sebelum dihapus oleh entah siapa.

 “Aku suka pohonan. Untukku, pohon adalah lampu lalu lintas untuk burung-burung. Hanya burung-burung yang mengerti isyaratnya. Karena itulah burung-burung hinggap dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mengikuti jejak burung, aku akan berjalan searah dengan pohonan.”

Sayang, pohon habis di suatu perempatan, dan tembok yang ia cari belum ketemu. Maka ia bilang, “Sekarang pakai cara Arab saja, lah. Tanya orang lewat.” Beruntung, dua orang lewat yang ia tanya memberinya satu tempat bagus: Passe Muraille Square di Montmartre. Sebuah tempat bagus buat menulis puisi di tembok. Kalau saja di Indonesia ada tembok begitu. Tapi kalaupun ada, tulisan tangan saya buruk, jadi, tetap saya tak akan bisa corat-coret di tembok juga akhirnya. Puisi yang ia tulis di tembok itu berjudul Handmade.

Dan kini waktunya menerjemahkan puisinya. Beberapa puisinya saya dapat film dokumenter, lalu cek blognya:


Saya tak mampu berbahasa Arab, karena itu, saya terjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya saja.


DNA
There’s one way
to scream..
remember that you are Palestinian.
One way to scrutinize your face
in a bus window as date trees and porters flicker past
and break your reflection.
One way
to reach the ozone layer
lightly, like a helium balloon
or to cry
because you’re a bastard.
One way
to place your hands over the breasts of the one you love
and dream
of faraway things:
a small flat in a suburb of Paris, the Louvre,
loads and loads
of loneliness and books.
One way to die:
inciting the snipers
in the early hours of the morning.
To call your cheating girl
a whore.
To smoke weed in a lift,
alone, at eleven o’clock at night;
to write a miserable poem in the bathroom.
One way
to scream in the gutter
where your face waves again
in a toxic puddle
where you remember, in one way,
you are definitely nothing
but
Palestinian.


DNA
Ada satu jalan
untuk teriak...
ingat kau seorang Palestin.
Ada satu cara
‘tuk amati lekat-lekat wajahmu
dalam kaca jendela
saat bus yang melaju
cepat, lewati portir dan pohonan
memecah bayangmu
Ada satu cara
untuk raih lapisan ozon
ringan, seperti balon helium
atau berseru
karena kau anak asu.
Ada satu cara
‘tuk letakkan tanganmu diatas dada kekasihmu
dan mengimpi hal-hal yang jauh: flat kecil di pinggiran Paris, Louvre.
disana ada banyak, banyak sekali
buku-buku dan sepi.
Ada satu cara untuk mati
menghasut para penembak jitu
kala subuh mulai jatuh.
Untuk menyebut kekasihmu yang curang
Si Jalang.
Menghisap ganja dalam lift,
sendiri, tepat pukul sebelas malam;
menulis puisi buruk di kamar mandi.
Ada satu cara
untukmu berteriak dalam parit
tempat parasmu muncul kembali
dari lumpur bertuba
disana, segera ingatan tiba,
apalah kau
kalau bukan
seorang Palestin.



Space

Space
filled with big rocks
like the Moon,
cannot accommodate
the appeal of the lottery vendor
or absorb
the death of a friend.
It does not open
for children who play football
until the end of the day..
but remains
that outer space
the vendor sighs in the face of..
and we see in it
the visage
of a dead friend.
The outer space
that turns its biggest rock
into a ball
kicked hard
by the children
at the end of the day. 


Ruang
Di ruang
penuh batu
sebesar bulan
tak dapat tampung penjaja lotere
atau menyerap
matinya seorang kawan.
ruang itu tak terbuka
untuk anak-anak
bermain bola hingga petang
tapi teronggok di sana
ruang di luar
Si penjaja mendesah pada seraut wajah...
dan kita lihat di dalamnya
raut muka
mati seorang kawan.
Ruang di luar
yang mengubah
batu terbesarnya
menjadi sebuah bola
keras ditendang anak-anak
pada petang.



My Mother’s Hand
My mother's hand is rougher
than the handle of a stripped door.
with it, I lift the first gift I won in a raffle.
with it, I buy an eraser to remove her face.
My mother's face I erase it all
keeping the wrinkles in there facing me,
like the web of a blind spider.


Tangan Ibuku
Tangan ibuku lebih kasar
dari gagang pintu tak bersepuh.
darinya, kuangkat hadiah pertama dari sebuah undian.
darinya, kubeli penghapus untuk memupus parasnya.
Parasnya, kuhapus tak bersisa
jauhkan mataku dari kerutan-kerutan,
yang bagaikan jejaring laba-laba buta. 



Handmade
I have a simple dream
to make another planet
that can house all my enemies
I proceed into it before them
and live there temporarily.
we nibble its delicious pieces
when we are hungry
the last bite of it
the last bite only
deserves
a fight.


Buatan Tangan
Aku punya mimpi sederhana
membuat sebuah planet
yang dapat merumahkan semua musuhku
Aku datang ke sana sebelum mereka
dan tinggal untuk sementara.
kami menggigiti bagian-bagiannya yang enak
di waktu lapar
pada gigitan terakhir
hanya pada catukan terakhir
layak dapatkan
sebuah perlawanan.



 Stray Bullet
After crossing the living room,
the library,
the long hallway
and the picture that holds us on a trip to the River Alkalb,
then passing the automatic washing machine,
and my mother, exhausted
despite the automatic washing machine,
it bends its trajectory with the force of gravity,
finally rests at the back of my head
and
kills you.


Peluru Nyasar
Setelah melewati ruang keluarga,
perpustakaan,
koridor panjang,
dan foto ketika kita berekreasi ke Sungai Alkalb,
lalui mesin cuci otomatis,
ibuku, kelelahan,
meskipun ada mesin cuci otomatis,
ia belokkan lintasannya dibantu gravitasi,
tiba di belakang kepalaku,
dan
membunuhmu.

Wednesday, May 23, 2012

Setrika

pakaian Tuan telah saya setrika. jika esok tiba dan Tuan telah rapi, bersiap pergi, ketahuilah, Nyonya telah menyiapkan setrika itu, untuk melicinkan punggung saya, karena saya tidak mahir membungkuk dan tundukkan pandangan.

atau barangkali, Nyonya berpikir setrika itu dapat merapikan nafsu Tuan pada saya, tapi Nyonya tidak tahu tentang itu, dan juga tak perlu tahu.

***

Gadis itu berjalan jauh, menyusuri mimpinya, doa orangtua dan bujukan tetangga. Ia tiba di negeri asing, lama menetap tapi tak kunjung lancar mengucap kata-kata dalam bahasa yang tidak ia pahami. Huruf-huruf kemudian kikis; ia belajar bahasa lain sebagai pelayan rumah majikan: Mandi air panas sedari pagi, hentak bentakan yang tak berujung, setrika di punggung, hingga menjadi pakaian Tuan di malam-malam sepi.

Orangtua dan tetangga sudah lama tidak dapat dihubungi lewat percakapan biasa. Hanya paket kiriman dan alih tabungan, sampai akhirnya semua menemu henti, mereka kebingungan ketika potret si Gadis tersebar di harian nasional: mengabarkan kepulangan yang tertunda, dalam sepeti kekalahan dan kesedihan yang dipaksa redam.



---

tadi waktu nyetrika, perempuan di kepala saya lebih lancar bercerita. barangkali saya perlu menyetrika kepala saya juga.

Thursday, April 5, 2012

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Itulah sebabnya, surat yang kukirim untukmu semakin pendek dan semakin banal. Aku tidak lagi bisa berpanjang-panjang menceritakan kecemasanku, tidak tentang negara yang semakin memualkan, atau tentang puisi yang berlari, semakin jauh saja dari jangkauku. Barangkali karena beban kuliah, barangkali aku frustrasi karena belum juga menemukan judul skripsi, atau karena aku tak kunjung bisa mengerjakan statistika. Aku merasa kesepian tanpa dihibur banyak kata-kata. Mungkin mereka pergi setelah aku semakin jarang membaca. Padahal malam-malamku masih jahanam senantiasa: tidur yang singkat dan mimpi-mimpi buruk tak henti berkelebat. Tapi aku tak bisa membaca. Setelah lama kutinggal, aku sepertinya harus mengulangi perkenalanku dengan mereka; mengambil jalan memutar, atau mengadakan semacam ritual, semacam ruwatan, entah apa, agar kami kembali bisa menghentikan gencatan senjata, dan aku kembali bertengkar, setidaknya berpikir, bersama mereka.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kapan terakhir kali aku membaca? Baru kemarin rasanya. Kapan terakhir kali aku utuh membaca? Aku sudah tak ingat. Beberapa minggu kemarin aku membaca buku anak-anak tentang perpustakaan ajaib dan buku surat. Kau tahu, untuk buku semacam itu saja aku memerlukan waktu yang agak panjang, awalnya karena aku merasa penerjemahannya kurang bagus, tapi kurasa, aku hanya banyak berdalih. Bukankah dulu aku bisa menghabiskan buku seperti itu hanya dalam beberapa jam, tidak peduli seburuk apapun kerja penerjemahnya. Mungkin aku terlalu banyak mengeluh, dan buku-buku itu merasa tak nyaman jika dekat denganku. Bayangkan saja, aku sering menunggui perpustakaan, dan aku hanya bisa membaca beberapa halaman saja selama menunggui perpustakaan. Aku merasa miskin akhir-akhir ini. Aku merasa kering. kau bilang aku harus mulai menjaga jarak dengan telepon genggam. Barangkali kau benar, dan untungnya, di kamar baruku, sinyal untuk telepon genggam tidak begitu baik. Aku tidak lagi banyak menoleh pada telepon genggam. Dan kamarku sepi.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku mulai lagi membaca, terengah-engah, tapi kupaksa juga. Rasanya nyaris seperti ketika aku ingin shalat lagi: kadang di tengah-tengah aku lupa bacaan, hitungan rakaat, dan rasanya aku malas melakukannya lagi. Tapi akhirnya kuselesaikan juga. kau tahu betul, itulah caraku mengatasi masalah, melaksanakan hidup. Aku akan berlari, menarik diri, untuk kemudian memaksa diri mneghadapinya dengan segenap ketakutan, kecemasan, dan gengsi, lalu menyelesaikan semuanya. Semakin tua, rasanya semakin memakan waktu yang lama, juga energi yang besar. Tapi aku belum punya cara lain. Cara terburuk pun sepertinya lebih baik daripada diam saja. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk duduk diam, dan ketika aku mengalami fase dimana aku lebih banyak diam dan menolak dunia, aku yang kerepotan sendiri. Aku hidup dan melawan karena tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku tidak punya pilihan lain. maka terpaksa aku bangun dan menghampiri rak buku, memilih satu judul dan mencoba bersetia membaca.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kau ingat pada surat-surat awalku? Aku menggugatmu, bahkan sebelum kita berpacaran, sedang kita mulai dilanda kasmaran. Aku menggugat pendapatmu, dan menulis sebuah surat panjang yang isinya aku sudah lupa. Aku juga pernah menulis sebuah esai panjang untuk tugas-tugasmu, atau ketika aku berbeda pendapat denganmu tentang satu masalah tertentu. Aku ingat, jika pendapatku berbeda denganmu, aku akan berlari ke rak buku, membaca, lalu menulis, untuk menyerang pendapatmu. Kau akan membalas dengan lisan, membahas tulisanku, dan kita akan baikan. Aku rindu menulis surat-surat semacam itu. Tapi kau sedang begitu sibuk, sedang aku begitu manja. Aku sudah merasa terlalu nyaman menulis untukmu, dan ketika kau sedang tidak bisa diganggu, aku jadi malas dan taklagi menulis. Terlalu banyak dalih, Sayang. Terlalu banyak dalih. Dan aku mulai lelah membiakkan mereka....

Monday, April 2, 2012

Kembali membaca.

"Seorang lelaki menulis puisi kepada angin. Angin berlari, dan puisi itu tersangkut pada rambut panjang seorang perempuan yang sedang termangu di jendela. Perempuan itu memegang secangkir teh tawar, direguk sesekali, lalu kembali menatap awan. Lama disana. Hingga tehnya habis dan ia hanya menatap langit. Awan sudah pergi. Bulan dan bintang tak kelihatan. Hanya ada sebentang gelap dan sepi. Dan perempuan lelah sendiri.

Ia berdiri, lalu menuju cermin, meraih sisir. Pelahan ia sisiri rambut panjangnya, dan puisi-puisi lelaki tadi berlepasan, kembali pada angin yang menyambut dari luar jendela, menerbangkan puisi itu ke langit, ke sungai, ke laut, ke segala tempat yang jauh, hingga akhirnya jatuh sebagai hujan ke pelipis lelaki, yang masih menulis puisi tentang seorang perempuan berambut panjang yang termangu di jendela..."

***

Aku tahu, Ishtar, aku tak mahir berpuisi, apalagi bercerita. Meskipun aku seringkali mengisahkan banyak hal ketika kita bersama. Kurasa, umur yang panjang kadang-kadang memberimu kelebihan: aku punya waktu lebih panjang waktu yang telah kuhabiskan, karena itu aku pernah mengalami lebih banyak dan pergi ke banyak tempat, bertemu sebanyak mungkin orang, dan dari situ lahirlah cerita-cerita, yang kerap kukisahkan padamu.

Sebagian ceritaku mungkin membuatmu bosan, sebagian kau tanggapi lain dari maksud penceritaanku, sebagian lagi berhasil menarik minatmu. Bagaimanapun, kau selalu punya sudut pandang yang menarik, Ishtar, dan karena itu aku senang bercerita padamu. Tentu, aku lebih senang lagi ketika kau yang bercerita padaku, tentang apa saja, meski aku selalu cemas kalau kau menemukan hal yang membuatmu sedih, lalu kau ceritakan padaku, dan kau nampak semakin sedih. Tapi tanpa cerita apapun, aku tetap senang menghabiskan waktuku berdua denganmu, karena kelak selalu ada cerita dari kebersamaan kita.

Ishtar, aku tahu akhir-akhir ini ada yang belum kau ceritakan. tentang lelaki-lelaki yang mengunjungi mimpimu. Lelaki-lelaki yang bercerita padamu. Lelaki-lelaki yang menarik perhatianmu, menarik cerita-cerita darimu. Seperti biasa, aku tidak punya hak untuk cemburu, apalagi saat kita berdua, kau hadir utuh untukku. Aku percaya padamu. Pada ceritamu, bahkan pada yang tidak kau ceritakan.

Tapi kali ini aku rindu pada ceritamu. Pada puisi-puisi yang kau tulis untukku, tentang mereka. Kali ini aku akan membacanya tanpa melarikan diri darimu. Nanti, saat kita bersitangkap dalam dekap, bacakanlah untukku puisi-puisi itu. Puisi yang telah kau tulis tentang mereka. Puisi-puisi yang lahir dari tanganmu yang gemetar, dari batinmu yang gelisah. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya.