Wednesday, January 16, 2013

Surat untuk Tuan Penyair

Akhir-akhir ini, saya sedang tidak bisa menulis puisi. Memang sebagian besar karena pusing memikirkan judul skripsi, tapi selain itu, ada juga alasan lain. Alasan yang barangkali seperti mengada-ada, tapi demi apapun yang bisa dipercaya dalam pertaruhan sumpah, benar adanya.

Saya sedang malas menjadi penyair. Dulu, saya begitu bersemangat menjadi penyair, dan tidak bisa talak dengan puisi. Sekarang pun masih mencintai puisi, masih berusaha (dan tidak juga berhasil) menulis puisi, tapi, saya malas menghadiri pertemuan penyair. Bukan tidak mau bersilaturahmi, senang sekali rasanya bertemu penyair yang tadinya hanya bisa dikenal lewat karyanya, berdiskusi, membicarakan masa depan puisi. Hanya saja, pada pertemuan-pertemuan seperti itu, kerapkali ada semacam unwanted attention.

Unwanted attention macam apa? Kalau hanya kata-kata, tentu gampang, tinggal dibalas dengan kata-kata lagi. Syukur-syukur bisa bikin puisi. Tapi lebih dari itu saya merasa risih. Saya teringat dulu seorang penyair (no, bukan penyair ini yang memberi saya unwanted attention) pernah berpesan, “Nanti kalau sudah menikah, jangan sampai berhenti menulis puisi.” Saya menyanggupinya. Memangnya seburuk apa pernikahan, sampai-sampai menceraikan seorang penyair dari puisi. (yang mau curhat, silakan hubungi inbox) it’s the unwanted attention that makes me sick. Lebih terganggu lagi ketika mengetahui ada banyak penyair perempuan yang mendapat unwanted attention.

Come on, men. Dunia kepenyairan barangkali memang penuh dengan laki-laki. Dan selalu saja terdengar keluhan kurangnya penyair perempuan, dan lain sebagainya, dan lain sebagainya. Tapi ketika (calon) penyair perempuan datang, kenapa kami disambut dengan banyak unwanted attention? Oke, akan ada suara yang bilang bahwa “Apaan, sih, perempuannya juga mau, kok.” Are you sure? Reaaally sure? Bukan cuma kalian aja yang ke-GR-an gitu? Oh, well, kalau memang benar, selamat. Tapi kalau salah, shit, men, kalian berpotensi kehilangan penyair perempuan, atau jikapun tidak kehilangan, kalian memperkokoh patriarki. Oh, yeah, you’re becomming part of the tyranny. Take that spotlight and goodbye.

And I’m not writing this based on some hearsays. Nope. Saya lelah dan merasa di-bully dengan perhatian-perhatian yang tidak tertuju pada tulisan saya. Dan saya lelah mendengar hal-hal ini terjadi pada penyair perempuan lain. Kalaupun memang puisi saya demikian jelek, kan tinggal bilang, “Males, ah, ngomongin puisi kamu, abis puisi kamu jelek. Yuk, kita ngomongin kamu aja.” There, gitu aja kok repot? Kalo dibilang begitu, saya kan tinggal pergi dan nulis sendiri, edit tulisan sendiri.

Saya juga cape mendengar nasihat dari beberapa kawan penyair laki-laki dan perempuan: “Ya gitu, che, memang banyak penyair yang genit, kamu hati-hati aja.” Uwooow, kenapa saya (dan penyair perempuan muda lain) yang harus berhati-hati? Mengapa tidak mereka saja yang menjaga sikap mereka? Atau lebih jauh: mengapa tidak ada nasihat pada penyair muda laki-laki untuk kelak tidak bersikap seperti senior mereka yang tidak patut dicontoh itu? Ada apa dengan dunia sastra ini hingga perlakuan-perlakuan menyebalkan seperti ini berlangsung berabad-abad?

Let me tell you this, peeps. Satu: tidak adalah tidak, berhenti adalah berhenti. Sebagai penyair, kalian tentu lebih tahu, lebih dapat peka, lebih sensitif merasa penolakan paling tidak kentara sekalipun. Kalau kalian tidak tahu, wah, kasihan sekali. Bagaimana bisa merasakan penderitaan orang antah berantah dan menulis puisi yang baik jika ditolak perempuan di depan mata saja tidak merasa?

Dua. Jika perempuan itu sudah menolak, dan kalian sebenarnya tahu, tapi memilih pura-pura tidak mau tahu dan memanfaatkan kondisi kalian yang lebih superior (entah itu fisik, mental, intelektual maupun status), you’re a fucking bully. Penyair memang istimewa, tapi dalam posisi seperti itu, tidak ada bedanya dengan preman, dengan diktator, dengan manusia menyebalkan dan mengerikan lainnya.

Tiga. Jika memang alasan kalian melakukan hal seperti ini untuk mendapat thrill agar bisa menulis lagi, for fuck’s sake, read a book. Get a life. Kalau hidup kalian membosankan dan enggan membaca, pergilah cari penghiburan yang tidak merugikan orang lain. Kalau masih juga tidak bisa, umm, gantung pena mungkin?
Empat. Jangan karena penyair perempuan tidak ada yang protes terbuka kalian merasa aman. Kalau ini berjalan terus, i’ll find a way to put you behind bars, if i have to. Or you want me to tell your wives?

Udah segitu aja. Terserah mau ditanggepin apa. Dan untuk orang-orang yang merasa tulisan ini untuk mereka, saya akan mengutip Ucok Homicide: “Lebok, tah, anjing.”

Selamat Tahun Baru, panjang umur Puisi.
Kecup jauh dan salam jari tengah,



Pradewi Tri Chatami, mantan calon penyair.

p. s. i mean it. i reaaally mean it.

Saturday, October 13, 2012

Si Pengungsi Mazen Maarouf


Namanya Mazen Maarouf. Dia adalah penyair keturunan Palestina, dari salahsatu keluarga pengungsi Palestina 1948 yang lahir dan tumbuh di Lebanon. Lahir pada tahun 1978 di kamp pengungsi, ia berhasil menyelesaikan pendidikannya pada universitas Beirut dan menyandang sarjana Kimia. Empat tahun lalu, ia memulai karir di dunia jurnalistik dengan menjadi sebagai kritikus seni dan teater. Lebih lengkap mengenai biografinya, dapat ditengok disini:


Oke. Saya memang  agak malas menulis ulang biografinya. Mari kita bicarakan hal lain saja. Saya jatuh cinta pada Mazen pada tayangan Poets of Protest bagian ke-5, yang dapat disimak disini:


dan mulai iseng-iseng menerjemahkan apa yang dia sampaikan di film itu, plus beberapa puisinya yang saya tweetkan beberapa minggu lalu. Tak ada niat yang lebih serius, tapi, sejak saya berutang pada Dobby dan dia meminta saya posting di blog, saya akhirnya merasa perlu untuk menulis ulang tweet itu ke dalam satu catatan. Sudah dapat ditebak dari pembukanya yang bertele-tele bahwa saya kesulitan untuk mengawali tulisan ini dan bahwa tulisan ini akan panjang sekali. So here it is.

“It is the mission of how to reconstruct the dirt, this is poetry, maybe to make a rose out of dust.”
Begitulah Mazen berkata pada Roxana Vilk, pembuat film dokumenternya. Film dibuka dengan adegan ia berjalan pada suatu jalan di Reykjavik, Islandia, tempat yang, tak pernah ia bayangkan, tempat ia tinggal kini, dalam rangka writer residency. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang Palestin yang seumur hidup tinggal di Beirut dan sekarang, karena alasan (puitis dan) politis, tinggal di Islandia. Ia memasukkan tangannya ke dalam salju dan tersenyum, lalu berkata, “Sungguh ajaib jika kita membayangkan bahwa ini semua adalah bekuan air. Ini adalah sebuah danau, dan disini, kita semua dapat menjadi Kristus karena kita semua dapat berjalan di atas air... yang membeku.”

Sambil berjalan ia berkata, “Menulis puisi adalah perjalanan tanpa arah yang pasti. Yang kubutuhkan sebagai bekal adalah buku catatan. Buku catatan ini adalah tas yang kosong. Dan ketika aku berjalan, aku mengisinya. Terkadang aku tak menulis apa-apa. Sampai dua-tiga bulan, tak juga tulis apapun. Ini kerap membuatku gelisah."

Mengenai tempat tinggal barunya, Mazen bilang, “Datang ke negeri yang damai, tak ada tentara, tak ada senjata, adalah pengalaman yang membingungkan untuk orang yang tumbuh di Arab.” Sebagai keturunan pengungsi Palestin tahun 1948, ia tahu betul bahwa keluarganya mengungsi karena alasan politis. Kini, di Islandia, sebagian alasannya kemari juga karena alasan politis. “Beirut selalu mendatangkan perasaan aneh padaku. Ia adalah kotaku, tapi di sisi lain, ia juga selalu menentangku.”

Di tengah film, ia terbang ke Paris, untuk puisinya yang sedang diterjemahkan di sana. Pada tahun 2002, di Lebanon, dalam puisinya yang berjudul D. N. A, ia menulis tentang Paris, tanah yang belum pernah ia pijak kala itu, tempat yang ia impikan, sebagai tempat untuk berlari, tempat terakhir untuk mendapat hormat. Suatu tempat yang jauh, nun di garis batas cakrawala, dan kini, ia di sana, untuk menerbitkan bukunya.

Di Prancis, orang-orang yang lewat banyak yang mengira ia orang Prancis, dan ia berucap, jika saja orang tahu ia seorang Palestin, orang-orang akan berpikir, “Ah, ia seorang pengungsi,” dan orang-orang akan iba, akan ingin memeluknya dan berkata-kata manis penuh simpati, siap mencurahkan airmata. Pada orang-orang seperti itu ia akan berkata, “Berhentilah. Palestina tak butuh iba. Palestina butuh pikiran jernih. Kami perlu memikirkan masalah kami, kami tak butuh airmata. Tentu akan ada tangis untuk korban. Kamipun menangis untuk hal-hal buruk. Tapi kami tak perlu berselimut duka.”

Ada gembira dan gugup menghadapi puisi-puisinya yang akan diterjemahkan. Bagaimana si terjemahan kelak dapat memantulkan apa yang ia maksudkan, dan bagaimana orang akan berinteraksi dengan teksnya. Mazen, saya juga jadi gugup menerjemahkanmu. Buku puisinya yang ketiga ini: An Angel Suspended on a Clothesline telah terbit di Beirut. Buku itu terbit setelah ia di Islandia, dan ia cukup bahagia, bahwa suaranya tetap berada disana.

“Kondisi Palestina cukup buruk. Kami berucap tak akan kasar terhadap yang lain, tapi dalam hati, tak banyak yang berubah. Ada kebencian, ada semacam sektarianisme yang ekstrim. Sektarianisme politis, bukan agama. Ketika aku datang ke sana, seseorang mengikutiku, mengawasiku. Mereka tak percaya pada siapapun.”

Ketika Arab Spring dimulai, ia terlibat dalam gerakan, dan hasilnya, ia menerima banyak ancaman. “Revolusi pecah di Syria maret 2011. Aku mendukung gerakan itu dengan menulis artikel dan puisi: mendukung revolusi, sekaligus mengkritik rezim. Kau tak bisa mendukung rezim yang membunuhi rakyatnya dengan cara yang begini brutal. Tentu saja ada yang tak senang, dan kau pasti bisa menduga: aku berada di posisi rawan. Ada bedanya antara menjadi orang Lebanon dan Palestin. Kalau kau orang Lebanon, kau boleh mengkritisi rezim di Syria. Seorang Palestin sepertiku, menulis dan mengkritisi rezim, akan mengganggu banyak pihak, karena bagaimanapun, Syria menyeru ‘Bebaskan Palestin’. Rezim berlindung di balik slogan dan seruan itu. Situasinya menjadi amat rumit, hingga aku terpaksa meninggalkan Lebanon dan pergi ke Islandia. Di Lebanon, aku seorang pengungsi. Di Islandia, keungsiannya lebih tebal lagi. Bertumpuk, dan menambah kepekaan dan semangat untuk menulis puisi.”

“Ketika kutulis puisi, aku menyelami Mazen Maarouf lama, ke dalam ceruk-ceruk kenangannya. Dalam puisi-puisi baruku, aku ingin kembali pada diriku. Bukan pada kehidupanku sehari-hari. Tapi pada konsekuensi-konsekuensi dari kehidupan sehari-hari. Aku menulis untuk mencari kepuasan, karena aku tak puas pada dunia. Kupikir puisi membuat ketidakpuasan kita berkurang. Arab tak banyak berubah sejak abad ke-18. Karena itu kamusnya sudah usang. Kita perlu segera merebutnya. Merombaknya. Memperluasnya.”

Di ujung film, ia berjalan-jalan di kota Paris, mengutarakan niatnya untuk menulis salahsatu puisinya di tembok dengan sebatang kapur. Ia mencari tembok yang cocok untuk dicoreti, dan dapat memuat tulisannya meski hanya sehari saja, sebelum dihapus oleh entah siapa.

 “Aku suka pohonan. Untukku, pohon adalah lampu lalu lintas untuk burung-burung. Hanya burung-burung yang mengerti isyaratnya. Karena itulah burung-burung hinggap dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Mengikuti jejak burung, aku akan berjalan searah dengan pohonan.”

Sayang, pohon habis di suatu perempatan, dan tembok yang ia cari belum ketemu. Maka ia bilang, “Sekarang pakai cara Arab saja, lah. Tanya orang lewat.” Beruntung, dua orang lewat yang ia tanya memberinya satu tempat bagus: Passe Muraille Square di Montmartre. Sebuah tempat bagus buat menulis puisi di tembok. Kalau saja di Indonesia ada tembok begitu. Tapi kalaupun ada, tulisan tangan saya buruk, jadi, tetap saya tak akan bisa corat-coret di tembok juga akhirnya. Puisi yang ia tulis di tembok itu berjudul Handmade.

Dan kini waktunya menerjemahkan puisinya. Beberapa puisinya saya dapat film dokumenter, lalu cek blognya:


Saya tak mampu berbahasa Arab, karena itu, saya terjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya saja.


DNA
There’s one way
to scream..
remember that you are Palestinian.
One way to scrutinize your face
in a bus window as date trees and porters flicker past
and break your reflection.
One way
to reach the ozone layer
lightly, like a helium balloon
or to cry
because you’re a bastard.
One way
to place your hands over the breasts of the one you love
and dream
of faraway things:
a small flat in a suburb of Paris, the Louvre,
loads and loads
of loneliness and books.
One way to die:
inciting the snipers
in the early hours of the morning.
To call your cheating girl
a whore.
To smoke weed in a lift,
alone, at eleven o’clock at night;
to write a miserable poem in the bathroom.
One way
to scream in the gutter
where your face waves again
in a toxic puddle
where you remember, in one way,
you are definitely nothing
but
Palestinian.


DNA
Ada satu jalan
untuk teriak...
ingat kau seorang Palestin.
Ada satu cara
‘tuk amati lekat-lekat wajahmu
dalam kaca jendela
saat bus yang melaju
cepat, lewati portir dan pohonan
memecah bayangmu
Ada satu cara
untuk raih lapisan ozon
ringan, seperti balon helium
atau berseru
karena kau anak asu.
Ada satu cara
‘tuk letakkan tanganmu diatas dada kekasihmu
dan mengimpi hal-hal yang jauh: flat kecil di pinggiran Paris, Louvre.
disana ada banyak, banyak sekali
buku-buku dan sepi.
Ada satu cara untuk mati
menghasut para penembak jitu
kala subuh mulai jatuh.
Untuk menyebut kekasihmu yang curang
Si Jalang.
Menghisap ganja dalam lift,
sendiri, tepat pukul sebelas malam;
menulis puisi buruk di kamar mandi.
Ada satu cara
untukmu berteriak dalam parit
tempat parasmu muncul kembali
dari lumpur bertuba
disana, segera ingatan tiba,
apalah kau
kalau bukan
seorang Palestin.



Space

Space
filled with big rocks
like the Moon,
cannot accommodate
the appeal of the lottery vendor
or absorb
the death of a friend.
It does not open
for children who play football
until the end of the day..
but remains
that outer space
the vendor sighs in the face of..
and we see in it
the visage
of a dead friend.
The outer space
that turns its biggest rock
into a ball
kicked hard
by the children
at the end of the day. 


Ruang
Di ruang
penuh batu
sebesar bulan
tak dapat tampung penjaja lotere
atau menyerap
matinya seorang kawan.
ruang itu tak terbuka
untuk anak-anak
bermain bola hingga petang
tapi teronggok di sana
ruang di luar
Si penjaja mendesah pada seraut wajah...
dan kita lihat di dalamnya
raut muka
mati seorang kawan.
Ruang di luar
yang mengubah
batu terbesarnya
menjadi sebuah bola
keras ditendang anak-anak
pada petang.



My Mother’s Hand
My mother's hand is rougher
than the handle of a stripped door.
with it, I lift the first gift I won in a raffle.
with it, I buy an eraser to remove her face.
My mother's face I erase it all
keeping the wrinkles in there facing me,
like the web of a blind spider.


Tangan Ibuku
Tangan ibuku lebih kasar
dari gagang pintu tak bersepuh.
darinya, kuangkat hadiah pertama dari sebuah undian.
darinya, kubeli penghapus untuk memupus parasnya.
Parasnya, kuhapus tak bersisa
jauhkan mataku dari kerutan-kerutan,
yang bagaikan jejaring laba-laba buta. 



Handmade
I have a simple dream
to make another planet
that can house all my enemies
I proceed into it before them
and live there temporarily.
we nibble its delicious pieces
when we are hungry
the last bite of it
the last bite only
deserves
a fight.


Buatan Tangan
Aku punya mimpi sederhana
membuat sebuah planet
yang dapat merumahkan semua musuhku
Aku datang ke sana sebelum mereka
dan tinggal untuk sementara.
kami menggigiti bagian-bagiannya yang enak
di waktu lapar
pada gigitan terakhir
hanya pada catukan terakhir
layak dapatkan
sebuah perlawanan.



 Stray Bullet
After crossing the living room,
the library,
the long hallway
and the picture that holds us on a trip to the River Alkalb,
then passing the automatic washing machine,
and my mother, exhausted
despite the automatic washing machine,
it bends its trajectory with the force of gravity,
finally rests at the back of my head
and
kills you.


Peluru Nyasar
Setelah melewati ruang keluarga,
perpustakaan,
koridor panjang,
dan foto ketika kita berekreasi ke Sungai Alkalb,
lalui mesin cuci otomatis,
ibuku, kelelahan,
meskipun ada mesin cuci otomatis,
ia belokkan lintasannya dibantu gravitasi,
tiba di belakang kepalaku,
dan
membunuhmu.

Wednesday, May 23, 2012

Setrika

pakaian Tuan telah saya setrika. jika esok tiba dan Tuan telah rapi, bersiap pergi, ketahuilah, Nyonya telah menyiapkan setrika itu, untuk melicinkan punggung saya, karena saya tidak mahir membungkuk dan tundukkan pandangan.

atau barangkali, Nyonya berpikir setrika itu dapat merapikan nafsu Tuan pada saya, tapi Nyonya tidak tahu tentang itu, dan juga tak perlu tahu.

***

Gadis itu berjalan jauh, menyusuri mimpinya, doa orangtua dan bujukan tetangga. Ia tiba di negeri asing, lama menetap tapi tak kunjung lancar mengucap kata-kata dalam bahasa yang tidak ia pahami. Huruf-huruf kemudian kikis; ia belajar bahasa lain sebagai pelayan rumah majikan: Mandi air panas sedari pagi, hentak bentakan yang tak berujung, setrika di punggung, hingga menjadi pakaian Tuan di malam-malam sepi.

Orangtua dan tetangga sudah lama tidak dapat dihubungi lewat percakapan biasa. Hanya paket kiriman dan alih tabungan, sampai akhirnya semua menemu henti, mereka kebingungan ketika potret si Gadis tersebar di harian nasional: mengabarkan kepulangan yang tertunda, dalam sepeti kekalahan dan kesedihan yang dipaksa redam.



---

tadi waktu nyetrika, perempuan di kepala saya lebih lancar bercerita. barangkali saya perlu menyetrika kepala saya juga.

Thursday, April 5, 2012

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Itulah sebabnya, surat yang kukirim untukmu semakin pendek dan semakin banal. Aku tidak lagi bisa berpanjang-panjang menceritakan kecemasanku, tidak tentang negara yang semakin memualkan, atau tentang puisi yang berlari, semakin jauh saja dari jangkauku. Barangkali karena beban kuliah, barangkali aku frustrasi karena belum juga menemukan judul skripsi, atau karena aku tak kunjung bisa mengerjakan statistika. Aku merasa kesepian tanpa dihibur banyak kata-kata. Mungkin mereka pergi setelah aku semakin jarang membaca. Padahal malam-malamku masih jahanam senantiasa: tidur yang singkat dan mimpi-mimpi buruk tak henti berkelebat. Tapi aku tak bisa membaca. Setelah lama kutinggal, aku sepertinya harus mengulangi perkenalanku dengan mereka; mengambil jalan memutar, atau mengadakan semacam ritual, semacam ruwatan, entah apa, agar kami kembali bisa menghentikan gencatan senjata, dan aku kembali bertengkar, setidaknya berpikir, bersama mereka.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kapan terakhir kali aku membaca? Baru kemarin rasanya. Kapan terakhir kali aku utuh membaca? Aku sudah tak ingat. Beberapa minggu kemarin aku membaca buku anak-anak tentang perpustakaan ajaib dan buku surat. Kau tahu, untuk buku semacam itu saja aku memerlukan waktu yang agak panjang, awalnya karena aku merasa penerjemahannya kurang bagus, tapi kurasa, aku hanya banyak berdalih. Bukankah dulu aku bisa menghabiskan buku seperti itu hanya dalam beberapa jam, tidak peduli seburuk apapun kerja penerjemahnya. Mungkin aku terlalu banyak mengeluh, dan buku-buku itu merasa tak nyaman jika dekat denganku. Bayangkan saja, aku sering menunggui perpustakaan, dan aku hanya bisa membaca beberapa halaman saja selama menunggui perpustakaan. Aku merasa miskin akhir-akhir ini. Aku merasa kering. kau bilang aku harus mulai menjaga jarak dengan telepon genggam. Barangkali kau benar, dan untungnya, di kamar baruku, sinyal untuk telepon genggam tidak begitu baik. Aku tidak lagi banyak menoleh pada telepon genggam. Dan kamarku sepi.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Aku mulai lagi membaca, terengah-engah, tapi kupaksa juga. Rasanya nyaris seperti ketika aku ingin shalat lagi: kadang di tengah-tengah aku lupa bacaan, hitungan rakaat, dan rasanya aku malas melakukannya lagi. Tapi akhirnya kuselesaikan juga. kau tahu betul, itulah caraku mengatasi masalah, melaksanakan hidup. Aku akan berlari, menarik diri, untuk kemudian memaksa diri mneghadapinya dengan segenap ketakutan, kecemasan, dan gengsi, lalu menyelesaikan semuanya. Semakin tua, rasanya semakin memakan waktu yang lama, juga energi yang besar. Tapi aku belum punya cara lain. Cara terburuk pun sepertinya lebih baik daripada diam saja. Aku tidak punya banyak kesabaran untuk duduk diam, dan ketika aku mengalami fase dimana aku lebih banyak diam dan menolak dunia, aku yang kerepotan sendiri. Aku hidup dan melawan karena tidak punya pilihan lain, Sayang. Aku tidak punya pilihan lain. maka terpaksa aku bangun dan menghampiri rak buku, memilih satu judul dan mencoba bersetia membaca.

Aku sudah lama tidak bisa menulis lagi, Kekasihku.

Kau ingat pada surat-surat awalku? Aku menggugatmu, bahkan sebelum kita berpacaran, sedang kita mulai dilanda kasmaran. Aku menggugat pendapatmu, dan menulis sebuah surat panjang yang isinya aku sudah lupa. Aku juga pernah menulis sebuah esai panjang untuk tugas-tugasmu, atau ketika aku berbeda pendapat denganmu tentang satu masalah tertentu. Aku ingat, jika pendapatku berbeda denganmu, aku akan berlari ke rak buku, membaca, lalu menulis, untuk menyerang pendapatmu. Kau akan membalas dengan lisan, membahas tulisanku, dan kita akan baikan. Aku rindu menulis surat-surat semacam itu. Tapi kau sedang begitu sibuk, sedang aku begitu manja. Aku sudah merasa terlalu nyaman menulis untukmu, dan ketika kau sedang tidak bisa diganggu, aku jadi malas dan taklagi menulis. Terlalu banyak dalih, Sayang. Terlalu banyak dalih. Dan aku mulai lelah membiakkan mereka....

Monday, April 2, 2012

Kembali membaca.

"Seorang lelaki menulis puisi kepada angin. Angin berlari, dan puisi itu tersangkut pada rambut panjang seorang perempuan yang sedang termangu di jendela. Perempuan itu memegang secangkir teh tawar, direguk sesekali, lalu kembali menatap awan. Lama disana. Hingga tehnya habis dan ia hanya menatap langit. Awan sudah pergi. Bulan dan bintang tak kelihatan. Hanya ada sebentang gelap dan sepi. Dan perempuan lelah sendiri.

Ia berdiri, lalu menuju cermin, meraih sisir. Pelahan ia sisiri rambut panjangnya, dan puisi-puisi lelaki tadi berlepasan, kembali pada angin yang menyambut dari luar jendela, menerbangkan puisi itu ke langit, ke sungai, ke laut, ke segala tempat yang jauh, hingga akhirnya jatuh sebagai hujan ke pelipis lelaki, yang masih menulis puisi tentang seorang perempuan berambut panjang yang termangu di jendela..."

***

Aku tahu, Ishtar, aku tak mahir berpuisi, apalagi bercerita. Meskipun aku seringkali mengisahkan banyak hal ketika kita bersama. Kurasa, umur yang panjang kadang-kadang memberimu kelebihan: aku punya waktu lebih panjang waktu yang telah kuhabiskan, karena itu aku pernah mengalami lebih banyak dan pergi ke banyak tempat, bertemu sebanyak mungkin orang, dan dari situ lahirlah cerita-cerita, yang kerap kukisahkan padamu.

Sebagian ceritaku mungkin membuatmu bosan, sebagian kau tanggapi lain dari maksud penceritaanku, sebagian lagi berhasil menarik minatmu. Bagaimanapun, kau selalu punya sudut pandang yang menarik, Ishtar, dan karena itu aku senang bercerita padamu. Tentu, aku lebih senang lagi ketika kau yang bercerita padaku, tentang apa saja, meski aku selalu cemas kalau kau menemukan hal yang membuatmu sedih, lalu kau ceritakan padaku, dan kau nampak semakin sedih. Tapi tanpa cerita apapun, aku tetap senang menghabiskan waktuku berdua denganmu, karena kelak selalu ada cerita dari kebersamaan kita.

Ishtar, aku tahu akhir-akhir ini ada yang belum kau ceritakan. tentang lelaki-lelaki yang mengunjungi mimpimu. Lelaki-lelaki yang bercerita padamu. Lelaki-lelaki yang menarik perhatianmu, menarik cerita-cerita darimu. Seperti biasa, aku tidak punya hak untuk cemburu, apalagi saat kita berdua, kau hadir utuh untukku. Aku percaya padamu. Pada ceritamu, bahkan pada yang tidak kau ceritakan.

Tapi kali ini aku rindu pada ceritamu. Pada puisi-puisi yang kau tulis untukku, tentang mereka. Kali ini aku akan membacanya tanpa melarikan diri darimu. Nanti, saat kita bersitangkap dalam dekap, bacakanlah untukku puisi-puisi itu. Puisi yang telah kau tulis tentang mereka. Puisi-puisi yang lahir dari tanganmu yang gemetar, dari batinmu yang gelisah. Aku ingin membacanya. Aku ingin membacanya.


JIbril



Lelaki itu datang padaku di suatu senja, menyalakan korek api saat aku ingin merokok. Hujan deras di luar, dan kopiku masih penuh. Aku menawarinya kopi, dan ternyata, dia telah memesan sendiri. Dia bertanya padaku, apakah boleh dia pindah dan duduk di sampingku. Aku mengiyakan tanpa mengangkat wajah dari layar, dan dia hampir duduk di sampingku, tapi kemudian berubah pikiran dan menarik kursinya, agak jauh dariku.

Aku sedang menulis. Sesekali kuangkat wajahku dan menghembuskan asap rokok, berharap asap itu terbang jauh bersama tenggat. Aku sudah mulai kehabisan uang, dan harus mengirim tulisan sebelum tenggat tiba, supaya aku bisa mencari uang pekerjaan lepasan, menerjemahkan jurnal untuk mahasiswa, misalnya. Pikiranku benar-benar sedang sibuk sendiri, hingga lupa, ada seorang asing duduk tak jauh dariku, dan aku masih membutuhkannya; aku lupa bawa korek.

Aku melirik ke arahnya sekilas. Wajahnya asing. Dia sedang mereguk kopinya, dan asyik dengan telepon genggam. Aku tak merasa perlu bertanya padanya. Tidak merasa perlu tahu namanya, asalnya, atau apapun. Agak aneh rasanya, karena aku tidak suka ada orang asing di dekatku. Apalagi jika sedang menulis. Tapi kali ini aku tidak peduli. Lagipula, dia tidak menggangguku. Tidak mengajak ngobrol, atau bertanya apa-apa.

Tulisanku nyaris rampung. Kopi sudah tandas entah sejak kapan, dan lelaki itu masih duduk di sana. Kini melamun. Sejak kapan ia melamun? Aku tak memerhatikan. Karena interaksi kami terbatas hanya ketika ia menyalakan korek untuk rokokku. Dan memang aku tidak mengangkat mukaku dari layar. Kulirik agak lama. Telepon genggam ia simpan di sebelah bungkus rokok yang hanya berisi dua batang rokok lagi. Tiba-tiba aku ingin bertanya padanya, tapi kuurungkan. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu. Maka aku kembali menulis, dan menulis. Hanya tinggal paragraf terakhir. Setelah ini, aku akan bertanya dan berterimakasih, karena telah menyalakan korek untukku. 
Tulisanku sudah rampung, dan saat aku hendak membuka mulutku untuk berkata, dia sudah lebih dulu menoleh dan bertanya, “Sudah selesai?” Aku mengangguk. “Terimakasih.” Ucapku. “Saya yang harus berterimakasih, Nona. Senang bisa ditemani senja ini.” “Maaf, tadi saya sedang bekerja, ada tenggat yang mesti saya penuhi.” “Tidak apa-apa, Nona.” “Oh, ya, panggil saja saya Ishtar.” “Dan saya Jibril.”

 ***

Wednesday, March 7, 2012

scratch. satu.

kamu harus cepat pulang, sayang. kekasihku akan datang, lima menit lagi. kali ini, kita tidak usah berpelukan, kau tak perlu mengecup mata kananku, tak perlu ada ritual-ritual sampai jumpa; kita tidak usah bertemu lagi.

sejak awal aku tahu, mengundangmu dalam keseharianku hanya akan mendatangkan celaka. tapi ini lebih gawat, aku mengabadikanmu dalam puisi, dan selamanya, patah hati akan perpisahan ini takkan bisa dibenahi, karena aku selalu akan berkesempatan mengenangmu lewat setiap kata, bahkan pada koma dan tanda tanya.

aku menutup pintu dan jendela, tapi masih merekam bayang punggungmu, dan selamanya, itu tidak akan hilang. aku tidak bisa berpaling kemana-mana setelah mengekalkanmu dalam aksara.

tubuhmu barangkali sudah bersama kekasihmu lagi, tapi ciuman-ciuman panjang dan pelukanmu masih gemetar dalam semesta catatku. kupenjarakan batinku dengan kenangan, dan siapa teman sekamar yang lebih kurang ajar darinya?